Pejuang SIGAP Fokus Pendampingan Tiga Komoditi Unggulan untuk Berau
Bupati
saat menutuf kegiatan festival Kampung Sigap baru-baru ini
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,TANJUNG
REDEB- Untuk mendukung pendampingan kemasyarakat
dalam menjalankan tugas, pejuang SIGAP fokus
pada 3 jenis komoditi unggulan dinilai sanpat potensi dikembangkan dibumi
Batiwakkal Berau yakni Jagung, Lada dan
Kakao .
Untuk komodisti Kakao sejak 2020 lalu sudah
berjalan dan bahkan juga sudah ada pemasarannya yakni pembelinya Berau
Cocoa. Tantangan saat ini membesarkan
produk Lada sudah diinisiasi ke Fakultas pertanian di UGM untuk menangani
penyakit busuk pangkal batang tanaman lada masalah utama pada kebun lada,
penyakit tersebut satu hamparan bisa habis.
“ ini sedang kami coba sekitar 2500 batang
diskon tengah saat ini sedang proses pembuatan template dan juga pengenal
varietas baru harapannya aku produksi lada akan lebih banyak lagi dari
sebelumnya.”kata Manager PSS Yusuf
Wibisana melaui Komunikator Program dan Supervisor PSS Ahmad Basuki saat
dijumpai di Sekretariat PSS Jl Anggrek Kecamatan Tanjung Redeb, baru baru ini.
Komoditi lainnya yakni Jagung. Melihat pangsa
pasar jagung yang sangat menjanjikan, memacu Pejuang Sigap Sejahtera (PSS)
tahun ini melakukan pendampingan di Kampung Labanan Makarti Kecamatan Teluk
Bayur untuk wujudkan Demontrasi plot (Demplot) jagung dilahan 1 hektar bisa
memproduksi 10 ton.
LOkasi
Labanan Makarti karena Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) usaha
utamanya ayam petelor sehingga
memerlukan suplai pakan dalam jumlah besar. Belum lagi kebutuhan pakan jagung
untuk ayam petelor di Kecamatan Tanjung Redeb, Sambaliung maupun Gunung Tabur.
“Meskipun di Kabupaten Berau sebenarnya tahun
2021 lalu PSS telah melakukan pendampingan untuk demplot jagung yakni di
Kampung Tunggal Bumi Kecamatan Talisayan. Namun karena pusat penggunaan jagung
sekitar kota lebih banyak, sedangkan produksi dari Talisayan jarak tempuhnya
terlalu jauh. Belum pertimbangan faktor badan jalan yang menyebabkan biaya
angkutnya semakin tinggi. Oleh sebab dicoba melakukan pendampingan di Labanan
Makarti, sehingga dekat dengan lokasi yang merupakan pusat konsumen jagung
untuk pakan ayam petelur,”ungkapnya.
Melalui metode penyuluhan pertanian kepada
petani jagung dengan cara membuat lahan percontohan, dimana perlakuannya adalah
dengan penggunaan mikroba.
Kenapa, agar tahan terhadap penyakit dan
meminimalisir penggunaan pupuk. Kalau terkait perawatan mahal masih normal tapi
penggunaan pupuk lebih sedikit itu yang diupayakan. Keberhasilan di Tunggal
Bumi, yang mana hasil produksi dengan hamparan lahan sama sama 1 hektar, benih
yang ditebar sebanyak 20 kilogram, dibandingkan dengan petani jagung umumnya
ternyata hasil produksi demplot jagung lebih tinggi sekitar 1 ton.
“Dalam arti
petani jagung umumnya bisa produksi sekitar 4-5 ton dengan hamparan satu
hektar. Tetapi demplot jagung bisa produksi 6 ton, hal ini besar harapan kami
agar petani bisa melihat dan membuktikan terhadap objek yang didemonstrasikan,”
papar Basuki.
Lanjutnta, kalau secara iklim meskipun satu
wilayah, namun berbeda. Cuaca di Talisayan lebih panas sedangkan di sekitar
kota khususnya Labanan Makarti lebih banyak hujannya. Menyebabkan tanah di
Talisayan merah sedangkan di Labanan Makarti tanahnya lebih gembur.
Kondisi itu lebih menantang, apakah demplot
jagung bisa direalisasikan dan menuai keberhasilan juga sebagaimana di Tunggal
Bumi.
“Memang sebenarnya jagung lebih cocok di
cuaca panas, lahan seperti di Talisayan. Namun kita mencoba dilokasi berbeda,
bahkan kami punya target kelak dengan menerapkan demplot jagung produksi di Labanan
Makarti akan lebih tinggi dari Tunggal Bumi, yakni 10 ton dengan luas lahan
sama 1 hektar, benih yang di tabur jumlahnya juga sama,” tutur Basuki.
Sejauh ini tahapan telah berjalan di lokasi
calon demplot jagung di Labanan Makarti sedang proses pematangan lahan.
“Sebenarnya di Labanan disiapkan lahan 2
hektar, namun lahan terpisah. Jadi lahan akan dikelola duluan hanya 1 hektar
saja, sambil melihat perkembangan, baru melebarkan ke lahan berikutnya,” .masih
menurut Basuki.(advetorial/sep)